PANGKALPINANG— Gejolak harga komoditas perikanan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan tren yang variatif sepanjang bulan April 2026. Meskipun beberapa  komoditas unggulan seperti tenggiri mengalami penurunan harga di sejumlah wilayah, fluktuasi pada komoditas udang dan cumi-cumi masih membayangi tingkat konsumsi rumah tangga di Bumi Serumpun Sebalai. Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kota Pangkalpinang mencatatkan penurunan harga pada beberapaikan tangkap utama. Harga ikan tenggiri yang biasanya menjadi barometer pasar, kini bertengger di angka Rp 100.000 per kilogram, turun dari periode sebelumnya. Penurunan serupa juga terjadi padaikan kurisi yang kini dijual seolah Rp 74.000 per kilogram.

Ketimpangan Antar-Wilayah

Menariknya, kondisi berbeda terjadi di Pulau Belitung. Di Kabupaten Belitung, harga udang justru mengalami penurunan signifikan ke angka Rp 87.000 per kilogram. Hal ini berbanding terbalik dengan Kabupaten Bangka Barat dan Belitung Timur, di mana harga udang dan cumi-cumimerangkak naik masing-masing ke level Rp 139.000 dan Rp 150.000 per kilogram. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yopi Wijaya  dalam keterangannya menyebutkan bahwa perbedaan distribusi dan kondisi cuaca lokal di perairan sekitarkepulauan menjadi faktor utama pembeda harga. "Logistik antar-pulau dan hasil tangkapan nelayan lokal di tiap dermaga sangat mempengaruhi harga di tingkat pasar konsumen harian," ujarnya. "Ikan tenggiri menjadi komoditas yang paling stabil di Bangka Selatan dengan harga Rp 75.000 perkilogram, menjadikannya wilayah dengan harga ikan tangkap paling terjangkau bulan ini."

Stabilitas Ikan Budidaya

Di tengah fluktuasi ikan tangkap laut, komoditas ikan air tawar seperti lele dan nila menunjukkan performa yang cenderung stabil. Di Pangkalpinang, Bangka Selatan, dan Belitung,harga lele tertahan di angka Rp 33.000 hingga Rp 35.000 per kilogram. Stabilitas ini dinilai krusial sebagai alternatif protein bagi masyarakat saat harga ikan laut sedang melambung. Namun, tantangan muncul di Bangka Tengah, di mana harga ikan nila mengalami tren kenaikan hingga mencapai Rp 44.000 per kilogram.Diketahui bahwa permintaan ikan tetap tinggi meskipun ada kenaikan pada jenistertentu, mengingat budaya masyarakat Bangka Belitung yang sangat bergantung pada hasil lautsebagai lauk utama.

Pemerintah daerah melalui DKP terus mengimbau masyarakat untuk tetap mengonsumsi ikan melalui gerakan Gemarikan. Upaya pemantauan harga akan terus dilakukan secara berkala guna memastikan inflasi daerah dari sektor pangan, khususnya perikanan, tetap terkendali hingga memasuki kuartal kedua tahun ini.